• Jelajahi

    Copyright © Matacyber.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan tampilan atas postingan


    Iklan

    Orang Muda Cilegon Gaungkan #PulihkanCilegon di Festival Bumi 2026

    Redaksi_Matacyber
    Minggu, 17 Mei 2026
    masukkan script iklan disini



    MATACYBER.COM | CILEGON — Ratusan orang muda dari komunitas seni, mahasiswa, pelajar, buruh, dan warga terdampak industri berkumpul dalam Festival Bumi 2026 di VM Cafee, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Sabtu 16 Mei 2026. 

    Festival bertajuk Pulihkan Cilegon: Masa Depan Bersih dan Berkeadilan itu menjadi ruang bagi orang muda Cilegon menyuarakan kritik terhadap ketergantungan energi fosil, terutama keberadaan PLTU batu bara di kawasan Suralaya. Tagar #PulihkanCilegon bergema sepanjang acara.

    “Kami tidak ingin orang muda Cilegon hanya mewarisi cerobong asap dan penyakit. Tanpa mendapatkan keadilan kesehatan,” kata Deni Setiawan dari Rhizoma Indonesia dalam diskusi publik bertajuk “Bincang Masa Depan Bersih dan Berkeadilan”.

    Menurut Deni, orang muda di kota industri menghadapi situasi yang tidak seimbang. Di satu sisi mereka dijanjikan pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain harus menanggung dampak ekologis dan kesehatan jangka panjang yang kritis.

    “Selama puluhan tahun, industri tumbuh cepat di Cilegon. Tapi kualitas udara, ruang hidup, dan kesehatan masyarakat justru makin rentan,” ujarnya.

    Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Dalam dokumen penyelenggara festival disebutkan Kompleks PLTU Suralaya telah beroperasi lebih dari empat dekade dan menjadi salah satu sumber utama pencemaran udara di kawasan Cilegon. Emisi PM2.5, sulfur dioksida (SO₂), dan nitrogen oksida (NO₂) dari PLTU disebut meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular. 

    Data yang dipaparkan Dani menunjukkan dampak kesehatan yang tidak kecil. Khusus kawasan PLTU Suralaya, tercatat ada potensi 1.790 kunjungan unit gawat darurat akibat asma setiap tahun, 1.010 kasus baru asma, 936 kelahiran prematur, serta hilangnya sekitar 742 ribu hari kerja akibat penyakit terkait polusi udara. 

    Selain itu, data Dinas Kesehatan Kota Cilegon mencatat terdapat 118.184 kasus ISPA sepanjang 2018 hingga Mei 2020 yang diduga berkaitan dengan paparan partikulat dari aktivitas PLTU dan industri di kawasan tersebut. 

    "Sudah saatnya PLTU batu bara yang sudah tua harus dimatikan, karena semakin tua dan lama mesin yang beroperasi, makin banyak pula polisi yang dikeluarkan," tegas Dani. 

    Cholise dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta mengatakan dampak krisis lingkungan paling besar justru akan dirasakan generasi muda. Sebab mereka akan hidup lebih lama dengan akumulasi pencemaran yang terjadi hari ini.

    “Krisis iklim dan polusi udara bukan isu masa depan. Itu sudah terjadi sekarang dan dirasakan langsung oleh warga Cilegon,” kata Cholise.

    Menurut dia, orang muda kini mulai menyadari bahwa isu lingkungan bukan sekadar kampanye global, melainkan soal hak dasar untuk hidup sehat.

    “Mereka bicara soal udara yang mereka hirup setiap hari. Soal anak-anak yang tumbuh dekat kawasan industri. Soal masa depan kota,” ujarnya.

    Festival Bumi 2026 sendiri dirancang sebagai ruang temu antara gerakan lingkungan, seni, dan budaya populer. Panitia menyebut pendekatan kreatif dipilih agar isu lingkungan lebih mudah diterima generasi muda. 

    "Kita ada live music dari Ordo Band dan Standar Satu Band. Sepesial akan ada penampilan dari Fajar Merah yang akan membawakan lagu-lagu kampaye lingkungan dan sosial, " katanya. 

    Acara ini juga diisi “Roasting Tukang Ghosting” berupa stand up comedy dari Angga Dasi dan Sopo Iki yang menyajikan kritik lingkungan dengan komedi. Pertunjukan teater dari UKM Sebawon Unival dan Titik Hitam, hingga “Pohon Harapan” tempat peserta menggantungkan pesan tentang masa depan Cilegon. 

    Di sudut acara, secarik kertas bertuliskan harapan tergantung di ranting pohon buatan panitia. Sebagian berharap udara lebih bersih. Sebagian lain menulis keinginan sederhana. Tidak lagi bangun pagi dengan bau asap batu bara.

    Festival itu ditutup dengan deklarasi gerakan kolektif lingkungan hidup dan penandatanganan petisi “Tobat Ekologi”, simbol desakan terhadap transisi energi bersih dan pengurangan ketergantungan pada PLTU batu bara. 

    Bagi orang muda Cilegon, festival itu bukan sekadar acara komunitas. Ia menjadi penanda bahwa generasi baru mulai mempertanyakan arah pembangunan kota industri yang selama ini dianggap biasa. (*/Red)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini